Month: May 2019

Aliran Rasa Level 8: Mendidik Anak Cerdas Finansial

Assalamuallaikum minna san,

Saatnya membuat aliran rasa untuk Tantangan Level 8 : Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini.

yang kata Bunda E, “Kita ceritakan semua prosesnya, pengalamannya, suka dukanya dan hikmah apa yang kita dapatkan.. 😍 . Akan lebih di apresiasi jika memenuhi kaidah 5W1H dengan baik dan kreatif, supaya energinya bisa disampaikan ke orang banyak dan menularkan semangat pada semua PEREMPUAN.”

 

Banyak hal yang sudah dialami selama game level 8 ini, seneng rasanya menjalani game ini karena seperti game-game sebelumnya tentu saja, mamah dan A kun bisa belajar banyak, dan sering kali ada materi belajar yang saya tidak terpikirkan untuk dibahas dengan A kun di usianya yang sekarang.

Seperti mengajarkan bagaimana menghitung dan mengeluarkan zakat, mengajarkan perbedaan keinginan dan kebutuhan melalui game, belajar mengambil uang melalui ATM, dan lainnya. Masya Allah Tabarakallah

Mamah banyak belajar juga tentang 3 S yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, Spend-Share-Save. Yang terpenting dan utama adalah membedakan kebutuhan dan keinginan. Alhamdulillah jadi makin merasa : “saya baik-baik saja kok dan masih di jalur yang benar”, ketika mengurungkan niat membeli sneaker diskonan karena masih punya beberapa sneaker yang layak pakai di rumah

A kun belajar banyak tentang konsep Share, kenapa harus memberi orang lain, mengapa harus berbagi, kenapa ada zakat dan lainnya.

Dan kami berdua punya quality time lain selain yang sudah biasa dilakukan, yang sudah lama sekali tidak kami lakukan, yaitu pergi berbelanja sembako alias grocery shopping. Namun kali ini kami berbagi tugas. Seru!

Perasaan kami sekeluarga, bahagia alhamdulillah…

selama game level 8 ini…

saya dan keluarga (anak-anak dan suami) belajar arti IKHLAS yang sesungguhnya. bagaimana jika yang kita kira rejeki, ternyata bukan. bagaimana hak orang lain melalui kita. bagaimana memberi tanpa pamrih, dan lainnya. Nggak mudah ternyata, kami masih belajar

dan belajar arti NIAT YANG LURUS, memberi orang lain tanpa ada embel-embel balasan, tanpa ada embel-embel harapan, harus memberi tanpa pamrih.

kebaikan lainnya, mamah mulai merasakan efek dari game level 1 hingga game level terakhir dalam kehidupan sehari-hari.

Saya nggak bisa menjabarkan spesifik siy, namun tiap saya melakukan hal bareng dengan anak, atau berinteraksi dengan anak, saya kok jadi terpikir: wah, ini yang belajar di game level 1. wah ini yang dulu diajarin di game level 5 dan lainnya.

A kun jadi lebih terbuka sama mamah, apapun perasaannya hari itu dia ceritakan kepada saya. dari bahagia, kecewa sampai sedih. Masya Allah Tabarakallah

Saya juga jadi lebih banyak membahas masalah parenting dan perkembangan anak sama suami, apalagi anak kami mulai beranjak abege. Tiap kali komunikasi berdua, pas lagi nggak ada anak-anak, saya dan suami laporan soal anak, gimana mereka hari ini, bagaimana perasaan mereka, bagaimana pelajaran dan teman-temannya, dan kami ambil pelajaran dengan apapun yang terjadi di hari itu, baik atau kurang baik.

Dan salah satu komentar ayah adalah: makanya, dulu ayah nyari istri yang bisa ngurus anak-anak… Masya Allah, apakah itu pujian buat mamah yah? #plak

Barakallah ilmunya IIP

semoga di game selanjutnya masih terus bisa fokus dan konsisten ya…mudahan di ridhoi Allah setiap prosesnya aamiin…

semangat belajar temen-temen!

Wassalam

#Tantangan10Hari
#Level8
#IbuProfesional
#BundaSayang

Advertisements

Game Lvl. 8, Day 10: Belajar di ATM

Assalamuallaikum minna san,

Tantangan 10-17 hari ini, 25 April -11 Mei 2019, adalah Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini

Setelah beberapa hari lalu belajar belanja sembako alias praktek konsep Spend,

yeiii sudah hari ke-10 ini, hari Minggu, mamah dan A kun masih belajar praktek konsep Spend yaitu cara mengambil uang di ATM

Dapet idenya karena kembali membaca camilan rabu yang biasa di bagi di kelas Bunda Sayang, di situ tertulis bahwa Ada 4 Langkah yang bisa dilakukan untuk menanamkan nilai-nilai keuangan kepada anak, antara lain:

  1. Mulai melibatkan anak dalam pengambilan keputusan keuangan
  2. Memberikan pengertian mana yang merupakan kebutuhan dan mana yang keinginan
  3. Membiasakan menabung
  4. Mulai mengenalkan anak pada lembaga keuangan

Mamah jadi punya ide untuk mengajarkan A kun menggunakan mesin ATM, sekalian kami mau makan siang di luar juga (sebelum bulan puasa tiba hihihih…).

Walaupun A kun sering menemani mamah ke ATM, di Indonesia maupun di sini, namun belum pernah sama sekali A kun dikenalkan bagaimana memencet menu-menu di mesin ATM.

Pengalaman-pengalaman lucu A kun dan mamah terkait mesin ATM:

  1. Waktu TK atau kelas 1 SD, mamah lupa, ketika pertama kali A kun tau bahwa uang cash bisa keluar dari mesin ATM, dan tiap kali ke Mall mamah suka bilang uang mamah nggak banyak: ambil di ATM aja mah, kan keluar terus tuh … #tepokjidat
  2. Di usia yang kurang lebih sama, A kun pernah bilang sama mamah: enak mah kayanya tidur di sini (sambil tubuhnya udah siap-siap mau rebahan di dalam ruang mesin ATM yang sempit), yuk mah kita tidur di ATM aja, soalnya adem…. #tepokjidat
  3. Ketika mulai besar, saya perlihatkan menu ATM, layarnya dan mulai dikenalkan…di mana tanpa sengaja dia melihat nominal tabungan mamah: wuuiiih, uang mamah banyaaaaak….*takjub … kenapa A kun disuruh beli mainan pake duit sendiri ya *dia jadi sedih…. #kembalitepokjidat

Gara-gara kejadian nomer 3 itulah saya nggak ngajarin A kun ngambil uang pake ATM dulu, takutnya dia berprasangka buruk ke mamahnya soal nominal tabungan wkwkwkwk…ah mamah ini yang terlalu berprasangka yaaaa…

Jadi inget, waktu saya juga nggak sengaja liat nominal uang suami di mesin ATM, gara-gara kami ambil uang di mesin ATM yang berderet-deret itu. Suami sering bilang uangnya nggak banyak, gaji nggak besar. Saya langsung minder liat nominalnya #plak… secara saya udah sok-sok an aja padahal duitnya cuman receh-receh doank

Saya cerita ini nggak maksud apa-apa, hanya diambil pelajaran aja bahwa di atas langit masih ada langit, bahwa uang merupakan salah satu dari buanyak banget rejeki dari Allah yang harus selalu kita syukuri, dan bahwa uang akan bernilai jika digunakan untuk kebermanfaatan orang yang membutuhkan dan di jalan Allah

kembali ke hari Minggu, setelah kami turun dari trem, kami menuju ATM di sebuah bank yang berada tepat di samping Mall di Matsuyama, Fuji Grand. Mamah menyuruh A kun memencet tombol-tombol menu di ATM yang berbahasa Jepang, bagaimana mengambil uang dengan memasukkan kartu ATM, memasukkan password dan memencet angka nominal yang akan diambil. Bagaimana kemudian setelah uang diambil, lanjut memprint buku tabungan.

Bedanya ATM di Jepang ini, di sini ATMnya lebih pendek mesinnya jadi layarnya berada sepinggang orang berdiri, sehingga ketika memencet tombol sambil menunduk saja ke bawah. Maaf, saya nggak berani foto, karena ada kamera cctv. Selain itu, lebih banyak menunya karena bisa berfungsi untuk menabung juga, langsung print buku tabungan dan yang paling unik adalah, kalau buku tabungan sudah habis maka akan otomatis terganti dengan buku tabungan baru dengan tetap diberikan buku tabungan yang lama. Asik ya, jadi nggak perlu antri di Bank untuk sekedar nge print dan ganti buku tabungan.

Yang bedanya lagi, untuk mahasiswa dan pelajar seperti saya yang tidak wajib membayar pajak dan menabung uang pensiun, maka tidak dibebani juga dengan potongan untuk biaya ATM dan bulanan bank. Karena di Jepang, setiap jam 6 sore ke atas alias malam hari dan weekend (sabtu, minggu) maka biaya potongan ambil uang di ATM akan lebih besar dibandingkan hari biasa. Keren yah, kami yang mahasiswa asing ketika pertama tiba di Jepang dan tahu akan hal ini, mikirnya: waaah, aturan ini membuat warga tidak konsumtif sepulang kerja ataupun di hari libur. Mikir-mikir lagi kalau mau ambil uang buat belanja ihihi….

Kembali ke A kun, bagaimana reaksi dan komentarnya setelah diberi kesempatan belajar menu di layar ATM? biasa aja ternyata pembaca, mungkin sudah besar ya dan sudah sering nemani saya ke ATM jadi tidak ada komentar-komentar polos A kun seperti ketika kecil dulu ….

huaaa anak mamah udah gedeeee…

Masya Allah Tabarakallah

Semangat

Wassalam

#Tantangan10Hari
#Level8
#IbuProfesional
#BundaSayang

#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial

Game Lvl. 8, Day 9: Grocery Shopping

Assalamuallaikum minna san,

Tantangan 10-17 hari ini, 25 April -11 Mei 2019, adalah Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini

Setelah kemarin belajar mencatat pengeluaran alias praktek konsep Spend,

untuk hari ke-9 ini, hari Jumat, mamah dan A kun masih belajar praktek konsep Spend yaitu belanja sembako di supa langganan (supermarket, japanese)

Masih dalam rangkaian libur panjang di Jepang, dari tanggal 27 April sampai dengan 6 Mei, karena pergantian Kaisar Baru, memasuki Tahun Reiwa, dan disambung dengan liburan Golden Week.

Berhubung kemarin sampai malam kami jalan keluar kota, pagi hari mamah harus masak dan bikin kue karena siangnya ada undangan makan siang di rumah sahabat mamah sambil A kun playdate sama temen-temennya. Dan pulang sore hari, di mana mamah tepar, ngantuk berat dan capek, masih lanjutan kurang tidur di hari-hari sebelumnya.

Maka kami baru bisa belanja ke supa malam hari, setelah magrib. Biasanya kalau begini, mamah akan skip dan pergi ke supa esok hari saja, di saat hari terang dan pergi pun sendirian. Namun karena jadwal mamah besok-besok lebih padat, tapi harus beli sembako untuk persiapan bulan Ramadhan, maka harus malam ini juga pergi. Berhubung udah janji mau ngajak A kun belajar belanja sembako juga, maka A kun ikut serta. Alhamdulillah, ayah juga mengijinkan mamah dan A kun keluar rumah malam hari.

Mamah punya buku kecil khusus untuk mencatat apa saja yang akan dibeli, sandang, pangan dan papan, namun seringnya ya kebutuhan harian kaya sembako ini yang memenuhi buku catatan tersebut. Barang apa saja yang sudah habis di dapur dan di lemari sembako, akan segera mamah tulis di buku itu, dan dimana mamah harus membelinya (biasanya berdasarkan harganya yang lebih murah dibanding toko lain dan ketersediaannya hanya di toko tersebut)

Jadi, pemirsah sudah tau ya, untuk masalah keuangan, mamah citra punya buku khusus untuk Zakat (Share), buku untuk mencatat pengeluaran harian dan buku untuk mencatat kebutuhan harian (Spend), dan 1 lagi yaitu buku untuk simpanan masa depan atau Save, yaitu buku rekening tabungan hihiihi…

Rekening bank saya terpisah antara rekening pendapatan/pemasukan dengan rekening bank untuk simpanan/tabungan, setiap ada gaji bulanan atau pemasukan bulanan (seperti beasiswa yang masuk per 3 bulan), saya langsung masukkan sebagian besarnya ke rekening tabungan lain untuk di simpan, dan berusaha menggunakan rekening pendapatan (yang sudah disisihkan) untuk digunakan selama 1 bulan. Tau dari mana kebutuhan minimum per bulannya? ya dari buku catatan pengeluaran saya…jadi biasanya saya jadi tau rata-rata tiap bulannya saya menggunakan berapa, maka hanya sebesar itulah yang saya taruh di rekening pendapatan, selebihnya langsung pindahin biar memaksa saya disiplin

mudahan bermanfaat ya tipsnya, saya begini juga berhubung saya itu pelupa (makanya buku catatan macem-macem jenisnya) dan boros, berusaha memperbaiki diri hihi…

Maaf jadi oot,

Kembali ke cerita A kun ya, malam ini kami bersepeda ke supa langganan yang menjual ayam frozen halal. Berhubung sudah malam hari, dan supa mau tutup, yang tadinya saya ingin Akun yang mengerjakan tugas belanja dan mamah hanya mengawasi dan membayar di kasir, maka kami berbagi tugas kali ini.

IMG_2544

A kun yang mencek sembako apa yang harus dibeli berdasarkan buku catatan mamah, kemudian menceklistnya, mamah bertugas mengambil barangnya di rak-rak. Kebetulan kan mamah sudah hapal juga letak barang-barang tersebut.

Alhamdulillah A kun semangat, walaupun saya tahu dia juga masih capek, sudah malam juga, jam tidurnya sebentar lagi tiba.

Bahkan dia kembali mengingatkan mamah, apabila mamah akan membeli sesuatu yang tidak ada di catatan, apakah barang ini penting ataukah hanya keinginan semata. Akhirnya mamah nggak membeli cemilan sama sekali….yang mana itulah sumber borosnya, dan banyak gluten dan gula, bikin BB naik kan mah hihi…

Pulang ke rumah, kami mencatat pengeluaran hari ini dan A kun membantu mamah menghitung.

Terima kasih A kun, sudah membantu mamah belanja sembako, kayanya sudah lamaaa sekali A kun tidak pernah ikut lagi belanja sembako ya nak, alasan mamah siy biasanya untuk menghemat waktu, A kun les mamah anter sambil belanja ke supa terus mamah jemput A kun, karena di rumah masih banyak yang mau mamah kerjakan lagi. Namun, kegiatan ini harus sering kita lakukan lagi ya sebagai quality time nya mamah dan A kun, dan sekalian belajar….

semangat!

Masya Allah Tabarakallah

Semangat

Wassalam

#Tantangan10Hari
#Level8
#IbuProfesional
#BundaSayang

#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial

Game Lvl. 8, Day 8: Flower getaway in Sera Town, Hiroshima

Assalamuallaikum minna san,

Tantangan 10-17 hari ini, 25 April -11 Mei 2019, adalah Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini

Setelah kemarin berdiskusi tentang konsep Share,

untuk hari ke-8 ini, mamah dan A kun belajar konsep Spend sambil short getaway ke beberapa taman bunga di Kota Sera, di Hiroshima prefecture pada Kamis kemarin.

Masih dalam rangkaian libur panjang di Jepang, dari tanggal 27 April sampai dengan 6 Mei, karena pergantian Kaisar Baru, memasuki Tahun Reiwa, dan disambung dengan liburan Golden Week.

Lumayan lah ya jib, bisa jalan walaupun 1 hari saja, karena jadwal mamah bimbingan sama dosen di kampus nggak kenal liburan hehehhe…

Kami berangkat pagi hari bersama teman saya sekeluarga dengan mobil pribadi, menuju Hiroshima prefecture melalui jembatan shimanami yang terkenal dengan shimanami kaido cyclingnya (boleg gugling hihi…), perjalanans sekitar 3 jam,

sampailah kami ke taman bunga pertama, berada di bagian tenggara Hiroshima prefecture, Flower village Kamu no Sato, Salah satu kebun bunga pink moss phloxes dan blue nemophilas terbesar di bagian barat Jepang.penuh dengan bunga berwarna shocking pink, pink muda, baby blue…indaaaaah sekali Masya Allah…  kami berada di sini sekitar 1 jam

kemudian dilanjutkan ke Sera Yuri en (Lily Garden), 15 menit dari taman bunga pertama, di sana kami makan siang dengan membawa bento yang dibuat di rumah, dan menghampar alas untuk duduk di bawah pohon Mei Hua, salah satu jenis sakura yang baru pertama saya lihat, hanamian di hiroshima Masya Allah.

Taman bunga dengan flower art terbesar. Di taman ini kami bisa melihat bunga-bunga yang di susun sehingga jika kita melihat dari atas bukit, dari ketinggian, maka akan membentuk pola gambar dan tulisan. Kali ini kami melihat pola gambar salah satu pemain baseball ternama dari club baseball di Hiroshima, Arai San dengan nomor punggung 25.

Terakhir, kami menuju Sera Kogen Farm di mana jika Spring akan ada Tulip Festival terbesar. Masya Allah, saya tidak bisa mendeskripsikan betapa indahnya taman luas itu dipenuhi bunga tulip berbagai jenis dan warna.

semua foto bisa kalian liat di instagram story saya, mungkin nanti akan saya upload di ig, nunggu antrian foto dulu ya sist, banyak foto belum di upload berhubung gak sempat hihi…

Dan kami pulang jam 6 sore, berhubung liburan panjang, Jalan tol pun macet, berasa ada di tol cipularang pas musim mudik lebaran…mobil-mobil mengular….hihi..

Tiba di rumah sudah jam 10 malam, lelah namun mamah dan A kun sudah diniatkan belajar hari ini.

Setiap hari, mamah mencatat semua pengeluaran harian di buku khusus, sangat membantu mamah untuk lebih disiplin memanfaatkan uang, secara mamah doyan banget belanjah…namun karena sering evaluasi keuangan diri sendiri, jadi tau pos mana yang boros, dan sebenernya tidak perlu…sangat membantu, alhamdulillah

Sebelum tidur, mamah mencatat pengeluaran hari ini, di mana A kun kali ini belajar dan melihat apa saja, juga ikut membantu menghitung, mulai pengeluaran perjalanan, tiket masuk ke taman-taman bunga tersebut, beli snack dan air minum kemasan di kombini (mini market, japanese).

Alif jadi tau berapa pengeluaran hari ini.

Tapi kayanya, anak ini belum tau bedanya pengeluaran besar sama kecil. Karena hari sebelumnya, dia juga membantu mamah mencatat dan menghitung pengeluaran. Secara kalau jalan, pastinya pengeluaran lebih banyak. Namun ketika mamah mengajak diskusi soal perbedaan pengeluaran hari kemarin dan hari kamis ini, dia datar aja tuh…

mungkin, yang penting bukan uang dia ….gitu kali ya, jadi adem ayem aja..wkwkwkwk

 

baiklah jib, besok kita belajar hal baru lagi ya…semangat!

Masya Allah Tabarakallah

semangat

Wassalam

#Tantangan10Hari
#Level8
#IbuProfesional
#BundaSayang

#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial

Game Lvl. 8, Day 7: Needs and Wants Games

Assalamuallaikum minna san,

Tantangan 10-17 hari ini, 25 April -11 Mei 2019, adalah Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini

Setelah kemarin berdiskusi tentang konsep Share,

untuk hari ke-7 ini, mamah dan A kun belajar konsep Spend sambil bermain games untuk melatih kepekaan akan kebutuhan (needs) dan keinginan (wants)

Kebutuhan (Needs) adalah hal yang tidak bisa ditunda. Keinginan (Wants) adalah hal yang masih bisa ditunda, dan kalaupun tidak dilakukan ya tidak apa-apa.

Jadi rules gamenya adalah, kami bergantian menyebut barang atau apapun dan lawan main akan memilih apakah itu termasuk kebutuhan (Needs) atau keinginan (Wants)

Mulai dari pilihan barang yang biasa, seperti beras, pakaian baru, sabun

sampai yang gaje-gaje ala mamah citra…seperti: singlet A kun, cari diskonan sepatu

karena beberpa barang itu punya kenangan yang bikin ngikik kalau kami kenang berdua, bahwa A kun itu bertambah besar dan mamah nggak sadar, bahwa mamah pernah sehariaaan sampai malam berburu sepatu diskonan pilih sana sini coba sana sini taunya nggak ada juga yang dibeli…karena memang nggak butuh, cuman nafsu.

dan A kun yang sudah lama ingin menggunakan tabungan masa depannya dengan membeli nintendo switch, akhirnya mengetahui apakah game itu kebutuhan ataukah keinginan.

Kami browsing amazon, website belanja online, untuk mengetahui harganya, kemudian setelah mengetahui, ternyata masih harus beli kasetnya, lapisan layarnya, tas tempat membawanya dan segala asesoris game konsol yang tidak murah.

Seketika, keinginannyapun padam dan bersyukur masih punya tablet lama yang masih bertahan lebih dari 5 tahun itu

Dan mamah yang berniat pengen beli sepatu baru demi biar bisa matching sama pakaian, seketika juga padam karena sepatu sneakers masih ada banyak, sepatu model lainpun masih banyak dan semuanya masih dalam kondisi baik

Alhamdulillah, hampir 3 tahun di negeri orang mengajarkan kami berdua untuk tidak konsumtif, selain jarang maen ke Mall (karena banyak tempat bermain di taman yang gratis dan instagramable) juga jarang makan diluar (karena mencari restoran halal terbatas, dan kalau kangen masakan Indonesia, nggak ada yang jual, tidak ada gofood juga hiks).

Sampai kami lagi ngapain aja, kami lakukan sambil asyik bermain Wants and Needs games, semakin mengerti apa yang jadi kebutuhan dan keinginan kita.

Sampai mamah bertanya: les kumon, piano dan karate A kun apakah kebutuhan ataukah keinginan?

saya juga ngerasa, takutnya A kun merasa terpaksa ikut les demi ambisi mamah citra #plak

teryata jawaban polos A kun: butuh mah, Alif senang soalnya biar makin pinter

Alhamdulillah

Masya Allah Tabarakallah ya nak

dan tawaran menambah les pun dia sanggupi, les bahasa Jepang untuk anak-anak asing di Kampus saya. Les ini merupakan proyek penelitian salah satu prof. di kampus saya, di fakultas pendidikan. Mereka ingin meneliti bagaimana seharusnya pelajaran menulis dan membaca bahasa jepang di ajarkan di sekolah dasar bagi murid-murid asing.

Tadinya tawaran dari email itu saya skip, karena saya pikir A kun sudah banyak les dan jadwalnya pun setelah pulang sekolah, namun salah seorang teman saya mengontak saya dan meminta A kun mau ikutan juga biar anaknya pun semangat ikut les, karena banyak anak Indonesianya.

Masya Allah Tabarakallah

semangat A kun, kita membiasakan diri memilih mana yang kepengen dan mana kebutuhan yang harus dipenuhi!

Wassalam

#Tantangan10Hari
#Level8
#IbuProfesional
#BundaSayang

#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial