Month: October 2016

Welcoming Party PPI Aidai

Minggu, 23 Oktober 2016

 

Jam 1 siang hari ini dilaksanakan welcoming party PPI Aidai (Ehime University) menyambut kedatangan mahasiswa-mahasiswa baru asal Indonesia di Ehime University, ada 4 orang Phd Student (3 orang teknik sipil dan 1 teknik mesin), 1 orang Master student (teknik sipil), 2 orang exchange Master Student dari UGM (teknik sipil), 2 orang exchange Undergraduate Student dari ITB (teknik lingkungan)

Hidup Engineers!!! hahahaha….

Jadi, di luar negeri itu kalau ada acara biasanya kita bawa yang namanya pot luck yaitu makanan yang dibawa dari rumah oleh masing-masing peserta undangan, terserah mau bawa masakan, minuman, snack, dessert, dan lainnya yang penting yang bisa dimakan.

Saya bikin telur sambal balado, bumbu baladonya ya yang instant laaa..gile aje gw ngulek cabe…maksudnya ulekan gak ada, cabe dan teman-temannyapun taknampak di supermarket manapun..hahahah…

bagaimana rasanya? waktu bikin siy enak banget, pas dipanasin..hmmm jadi agak gosong #gubrak

tapi habis saudara-saudara…yang penting habis, alhamdulillah…

Oh iya, acaranya apa aja sih?

acaranya dilakukan pembukaan oleh ketua PPI Aidai yaitu teman satu kampus di samarinda, Pak Aji. kemudian dilakukan acara perkenalan mahasiswa-mahasiswa baru, lalu memperkenalkan teman-teman yang sudah lama disini, dan salah satu yang menarik perhatian adalah, ada 3 orang Indonesia yang sudah puluhan tahun menetap di Jepang dan menikah dengan orang Jepang yaitu bu…oke saya lupa nama beliau, gomenasai. kemudian ada teh Lilis, juga merupakan sensei di calon sekolah Alif nanti, dan Teh Wawa.

lanjut acara makan-makan, membahas arisan dan yang paling seru tentunyaaa acara narsis bareng…

img_2593
Welcome to Ehime (photo credit : pak N with dslr)

 

Advertisements

Sekolah Dasar Yuzuki

 

Sabtu, 22 Oktober 2016

Hari ini saya diajak Bu Na, untuk mengunjungi SD Yuzuki, SD dekat Apato yang jadi calon sekolah Ajib nanti. Ada acara festival tahunan, dan beberapa negara yang anaknya bersekolah disini punya booth yang bisa dijadikan tempat jualan makanan khas dari negara asalnya. Hal ini membuat anak SD disini bisa belajar budaya negara lain.

Jadi, sistem sekolah di Jepang itu sesuai wilayah tempat tinggalnya. Ketika anak datang, saya sebagai orang tua yang menjadi penjaminnya, datang ke City hall untuk melapor, kemudian diberi surat keterangan untuk dibawa ke Dinas Pendidikan di Matsuyama, kemudian diknas yang menentukan di daerah mana anak ybs akan bersekolah.

Anak-anak SD disini, berangkat dan pulang sekolah berjalan kaki bersama-sama, dibuat grup yang terdiri dari anak-anak SD yang besar dan yang kecil, nanti kumpul dulu di spot tempat berkumpul grup tersebut jam 7.20 pagi, kemudian bersama-sama ke sekolah.

Pertama tiba di sekolah ini, saya takjub sama lapangan di depan gedung sekolah yang luaaaaassss sekaleeeeee…ada berapa kalinya lapangan sekolah Ajib di Indonesia ya…8-10 kalinya ada kali. biasanya lapangan ini dijadikan tempat lomba olahraga ketika summer.

Saya masuk pintu depan sekolah, disana berderet lemari-lemari untuk meletakkan sepatu, kemudian disitu ada keranjang besar bersisi sendal berwarna hijau, kita gunakan selama berada di dalam gedung sekolah.

Kemudian kami menuju kelas dimana booth Indonesia berada, sepanjang koridor menuju tempat tersebut, saya melihat di kanan kiri saya ada ruangan guru, runga kelas yang penuh dengan interior unik, lukisan hasil karya anak-anak ditempel didinding ruang kelas. huaaa…seperti yang saya sering lihat di TV.

kemudian kami tiba di ruang untuk booth Indonesia, mengeluarkan snack-snack hasil khas Indonesia hasil karya ibu-ibu Indonesia, ada martabak mini, kue lumpur kentang, risoles, kroket, jalankotek khas makassar, choco cereal chocolate, putu mayang, dan lainnya. Kami satu rungan dengan ibu dari negara Malaysia, dia membuat Karipap, rasa dan bentuknya seperti kroket di Indonesia.

Dan yang seru, ada sudut dimana ada meja, disana anak-anak bisa bayar untuk beli cheesecake mini kemudian di hias dengan whipp cream dan aneka gula berbentuk macam-macam dan berwarna-warni, sudut ini yang paling banyak didatangi anak-anak..hebat ih ibu Indonesianya yang punya ide.

Setelah membantu mendekorasi booth, tepat jam 10 pagi festival tahunanpun dibuka. ternyata ada acara besar di gedung olahraga. kami menuju kesana, waah betul saja, sepanjang koridor menuju ke gedung olahraga, kami melihat banyak booth makanan ringan khas Jepang.

Karena hari sabtu, para orang tua libur bekerja sehingga banyak yang menemani anak-anaknya ke acara festival ini. Anak-anakpun belajar budaya negara lain, belajar ngantri jajan, belajar bayar makanannya sendiri, seru liatnya.

ketika masuk ke gedung waah, gedungnya luas banget, ada panggung disalah sudutnya  dengan piano besar dan beberapa kursi untuk penonton, dan sedang ada acara paduan suara di sana kemudian dilanjutkan resital piano oleh 2 orang guru. Di seberangnya panggung ada acara Flea Market, acara yang dinanti kaum mahasiswa hahahaha…mulai dari buku anak-anak, mainan, dan lainnya. Barang-barangnya di taruh di 3 meja pingpong yang besar itu, dan barang-barangnya sudah ditempelin harga, saking murahnya itu saya bayar ke kasir pake duit recehan aja padahal belanja 2 kantong besar…horang kayah #plak

img_2575
suasana Flea Market dan Panggung Seni di Gedung Olahraga SD Yuzuki

Saya takjub sama Sekolah Dasar di Jepang, bukan hanya non fisiknya ya, disini anak kelas 1-4 diajarkan life skill dan pembentukan karakter, tapi juga bangunan fisiknya yang luas buanget, untuk ukuran 1 sekolahan ya. Ada kali 5-6 kalinya SD ajib di Indonesia, itupun kan SD alif gabung sama SMP dan SMU dan sekolahnya swasta (yang bayarnya lumayan itu…hehehe..). Di SD Yuzuki ini sekolah negeri loh, ada gedung olahraga dengan panggung berisikan piano besar, ada lapangan luas, ada kolam renang, dan lainnya. Kata senpai, Jepang punya standar yang sama bagi sekolah untuk seluruh Jepang, baik fisik maupun non fisiknya, sehingga tidak ada kesenjangan di seluruh Jepang, nggak ada Sekolah bagus dan sekolah jelek, nggak ada sekolah favorit, semua sama bagusnya, dan hal ini sampai ke tingkat Universitas.

halo, apa kabar Indonesia? semoga bisa mencontoh dari negara yang lebih baik ya, kan udah sering studi banding..ya toh?

 

 

 

Learn Like Dummies

Jumat, 28 Oktober 2016

Hai..hai..kenapa saya ingin bikin bagian ini?

karena saya ingin berbagi sedikit ilmu yang saya dapet di kelas Nihongo (bahasa Jepang) yang saya ambil

lagian, belajar Nihongo di negeri asalnya langsung itu ternyata berbeda…

banyak hal yang saya baru tau ketika tiba disini

beberapa hal yang saya notice setiba disini :

  1. bahasa jepang tidak ada huruf mati, mereka akan kesulitan memanggil nama si ajib..kemungkinan besar akan ditambah dengan huruf vokal dibelakang : ajibu
  2. “n” dibaca “ng” contoh : sumimasen (excuse me), dilafalkan : su-mi-ma-se-ng seperti suku di sulawesi bukan? ya itupun diaminkan temen saya yang berasal dari sana, dan
  3. beberapa istilah jepang ternyata mirip dengan bahasa suku sulawesi tersebut namun berbeda arti. contoh : tabe (permisi -suku sulawesi) tabemaru (makan -Jepang). Waktu ada acara jamuan makan-makan oleh teman-teman Indonesia di Matsuyama, saya sering dengar orang-orang bilang tabe..tabe..saya kira mereka lagi mengucapkan istilah bahasa Jepang..ternyata…#tepokjidatataskesotoyansaya
  4. “su” dilafalkan “s” arigatou gozaimasu (a-ri-ga-to go-za-i-mas), itadakimasu,yoroshiku onegaisimasu, dll…

 

 

Tolerance

sebagian kutipan dari :

THE HIGHEST RESULT OF TOLERANCE IS RESPECT AND SOCIAL RELATIONS

Oleh dr. Gamal Albinsaid

The highest result of tolerance is respect and social relations”, toleransi itu adalah bentuk penghormatan kita pada perbedaan yang ada.  Mulai dari hal yang kecil seperti makanan, cara berpakaian, cara beraktivitas, sampai hal yang besar soal agama, kitab suci, dan prinsip Ketuhanan.

UNESCO dalam publikasinya “Tolerance: The Threshold of Peace”

Menyatakan social relations adalah salah satu indikator dari suksesnya toleransi di sebuah masyarakat. Oleh karenanya hasil dari toleransi adalah kenyamanan individu dan keharmonisan sosial.

“Don’t get so tolerant that you tolerate intolerance”(Bill Maher).

Kita tidak boleh mentoleransi sebuah keintoleransian.

Jangan salah mengartikan toleransi, “Tolerance does not mean tolerating intolerance”.

Prayer Room at My Campus

Kamis, 20 Oktober 2016

Hari ini saya akan bahas soal tempat sholatnya kaum muslim. Entah bagaimana sejarahnya, namun di Gedung Engineering tempat lab saya berada, disediakan ruang untuk sholatnya perempuan di lantai 2, ruang sederhana tapi lumayan ada wastafel untuk berwudhu, sofa untuk istirahat, meja kecil untuk sekedar makan bekal siang kita dan ada locker untuk menyimpan buku-buku kuliah.

img_2437
Prayer Room untuk perempuan di Ehime University

Selain itu, untuk prianya disediakan tempat diluar gedung, katanya siy kalau winter, luar binasa dinginnya kalau musti sholat disitu. Setahunan ini, International Office menyediakan ruangan untuk sholat jumat. huaa..alhamdulillah…Bayangkan toleransinya masyarakat Jepang terhadap kami, mahasiswa asing yang muslim.

Bersyukur banget loh di Ehime University diberikan ruang untuk beribadah, tidak semua Kampus di Jepang menyediakan hal seperti ini bagi mahasiswanya.

Di kampus lain di Jepang, saya lupa namanya, ada yang menyediakan kantin halal bagi mahasiswa asingnya. Bagaimana di Ehime University? kata senpai, kebanyakan mahasiswa asing disini (baca : Indonesia) membawa keluarga, sehingga lebih banyak makan dirumah, oleh karena itu kebutuhan untuk dibukanya kantin halal dianggap belum mendesak.

 

Gokushoku : Kantin Kampus

Rabu, 19 Oktober 2016

Mau cerita kantin kampus nih alias dalam bahasa Jepang yaitu Gokushoku.

Pertama masuk sebelah kiri, ambil nampan warna pink ( di Jepang, warna pink tidak diasosiasikan kepada satu jenis kelamin tertentu, jadi santai aja..), kemudian lanjut ambil salad di meja deretan salad, bayarnya berdasarkan hasil timbangan ketika dikasir. Mulai salad sayur sampai manisan nenas (enak enak enak ini…)

Kemudian datangin counter, pilih menu ikan (karena yang bisa dimakan ya ikan dan udon) ada ikan goreng dan ikan bakar. kemudian lanjut ke counter nasi, disini nasinya tersedia berbagai ukuran cawan, mulai dari SS (super small) hingga SL (Super Large, kayanya…lupa). setelah itu kekasir untuk ambil sendok/sumpit, taruh piring isi salad di timbangan elektronik yang disediakan di depan kasir, bayar (kurang lebih JPY 500).

Lanjut ke tempat salad dressing, tersedia macam-macam botol dressing, tapi yang bisa kita makan yang tutup botolnya merah (saus kedelai), disitu juga kita ambil air puti atau ocha hangat, boleh ambil 2 gelas atau lebih, gratis.

Setelah itu pilih meja, duduk, itadakimasu!

img_2440
Berhubung telat makan dan lafar, saya pilih cawan nasi ukuran S!… sebelah kanan atas, air coklat dan bening itu minum ya, bukan kobokan

Setelah makan selesai, nggak ada tuh pelayan yang tugasnya beresin meja kita, diluar negeri semua mandiri, self service (ketika saya di Bangkok juga begitu). Bawa nampan kosong ke tempat sampah, semua sisa makanan kita buang disana. Kemudian menuju tempat menaruh peralatan makan yang kotor.

img_2356
Masukkan sendok/sumpit di lubang yang ada simbolnya. Kemudian masukkan cawan nasi ke bagian simbol yang dibagian tengah, sisanya ditaruh saja diatas eskalator itu.

Kok dari tadi istilah bowl itu disebut cawan? kenapa? karena bowl-nya bahasa Indonesia, artinya sangat gak senonoh dalam bahasa Jepang, jadi semua orang Indonesia disini menyebutnya “cawan”

Kata lain yang terlarang, adalah ring dalam bahasa Indonesia, kenapa? cari tau sendiri laah kan ada mbah goggle hihi…

Ehime University

Rabu, 19 Oktober 2016

Hari ini saya seharian penuh dilab, dari jam 9 pagi hingga menjelang magrib. Ngerjain tugas dari sensei sama belajar Hiragana (lusa ujian cuy..)

Pulang jam 5 sore itu (magrib jam 5.35 waktu matsuyama) dianggap terlalu pagi, biasanya yang dikampus datang jam 10-11 siang lalu pulang malam atau menjelang dini hari. Orang Jepang nggak terbiasa bangun pagi, katanya…

Sebenarnya saya belum wajib datang tiap hari ke lab, karena masih adaptasi dan masih sibuk belajar Nihongo. Tapi saya ingin ada kesan baik aja (baca : pencitraan #plak), soalnya sensei kadang pura-pura masuk lab (ruangan sensei beda gedung) untuk nanya mahasiswa lain, padahal mah ngecek kita, rajin atau kagak..berdasarkan pengalaman teman-teman. Lagian saya lebih fokus di lab, nggak bisa maenan hape hahahah…bayangkan, terbebas dari hape terlama hari ini, kurang lebih 8 jam nggak megang hape…dikit-dikit ada siy, kalau di lab lagi kosong hihi…

Oke, saya akan bahas Ehime University dari jepretan kamera di hape saya *hape baru cepatlah datang

img_2115
View didepan Aidai Muse (Intl Office)

Ehime University atau Ehime Daigaku merupakan Universitas Negeri di Ehime Perfektur, biasanya Universitas ini disebut Aidai. Memiliki 3 kampus :

  1.  Kampus Utama yaitu Kampus Johoku, terletak di bagian Utara Matsuyama, terdapat Faculty of Science and Engineering , Law and Letters, Education dan Colaborative Regional Innovation, dimana merupakan Fakultas baru yang arahnya ke penelitian sosial (sensei saya pindah ke Fakultas tersebut)
  2. Kampus Mochida, letak Faculty of Education Attached School
  3. Kampus Tarumi, letaknya Faculty of Agriculture (15-20 menit naik sepeda dari Kampus Johoku)
  4. Kampus Shigenobu, School of  Medicine University Hospital (paling jauh dari Johoku)

Jumlah Intl student terbanyak berasal dari China dan yang kedua terbanyak dari Indonesia.

img_2334
Faculty of Engineering, ada 5-6 gedung Engineering yang masing-masing berlantai 6

 

img_2108
two of the Engineering Faculty Building, lab saya digedung sebelah kiri, lantai 4, iya semua gedung itu isinya lab semua hahaha…
img_2432
bike everywhere…

Oh ya, untuk menjawab rasa penasaran saya..juga kalian wkwkwk..saya belajar di Faculty Engineering, Civil and Environmental Engineering Departement, masuk di lab Social Management yang latar belakang senseinya adalah Urban Planning..sekarang sensei fokus ke riset terkait human psychology..alhamdulillah, masih searah dengan research plan sayah..mudahan lancar aamiin.

Soalnya saya susah dapet calon supervisor karena untuk riset Urban Planning tapi kearah sosial, agak susah. Seringnya dapet di Departement Antropologi (dadah Jerman, Belanda) atau Geografi (dadah Jerman, Belanda, Swiss, Swedia, Inggris, Belgia, dll) atau Kehutanan (dadah Thailand) yang mana saya ada keraguan di linieritas kelak kalau pulang mengajar lagi. Saya butuh tempat riset yang masih dalam ranah Teknik Sipil dan Perencanaan (Teknik Sipil, Teknik Planologi dan Teknik Lingkungan).

Proposal riset saya dulu juga agak diragukan ketika Bridging Program, karena saya masuk kelas Engineering tapi riset saya terlalu sosial, saya sampe meragukan ilmu yang saya ketahui…*salah-salah saya ngaco lagi…, tapi akhirnya terjawab ketika ikutan seminar Intl di ITB, ternyata orang plano lain banyak yang risetnya lebih sosial dibandingkan saya hihii…

Alhamdulillah berkat doa orang tua, saya bisa kuliah di tempat yang tepat..doakan semoga lancar yaa aamiin…

Kok jadi curcol, ini mah mestinya masuk bagian lain dari blog ini..oh well gak papa ya hehehe…

 

 

Toko Lady dan Gyoumu

Selasa, 18 Oktober 2016

Kelas Hiragana hari ini menguras otak saudara-saudara…cuman 2 jam, tapi 1 peserta diajarin 1 tutor, suruh hapalin 50 lebih karakter Hiragana karena lusa udah ujian #mewek

Hanya 3 pertemuan, kemudian 1 pertemuan untuk ujian. lah aku kemaren bolos untuk ke imigrasi. Jadilah siang ini di kejer sama tutornya #mewek

Mana belum makan siang, karena nggak sempat (lain kali bawa bekal) akhirnya setelah kelas bubar, kami lanjut ke kantin kampus. Beberapa ada yang halal, salad dressing juga ada yang halal. Lain kali kita bahas soal kantin kampus ya

Sore sehabis dari kampus, saya nemani mbak V beli pampers buat anaknya di toko Redi, kami nggak pernah kesana, nggak ada yang nemani dan kami cuman dikasih tau bahasa katakananya..

Sebenarnya nama tokonya Lady, tapi orang Jepang menuliskannya denga katakana “Redi” #gubrak. Orang Jepang nggak bisa melafalkan “R”, dia melafalkannya dengan mengucap “L”

Jadi inget tutorku tadi, Tanaka san, aku baca huruf Hiragananya : ra ri ru re ro, tapi menurut mereka, itu harus disebut la li lu le lo. Pusing nggak kalau nanti ujian? #mewek

Sehabis pulang dari Toko Redi, kemudian sholat magrib, Kami diajak ke toko bahan makanan halal oleh Uni Y, bersama Mbak N dan Mbak V ke toko milik orang Brazil, Toko Gyoumu namanya. Lokasinya dekat dengan apato kami, tinggal luruuuuss aja. Sekalian nyobain ngetest kekokohan keranjang belakang sepeda saya yang besar itu jika bawa belanjaan banyak huehuehue…

Ketika tiba, Uni Y menunjukkan apa saja makanan yang halal dan boleh dimakan, yang luar biasanya, disini ada beberapa makanan halal yang diberi sticker halal di counter barangnya..bahagiaa rasanya nemu ayam potong boneless halal, nugget, mie instant, sarden, susu kental manis, snack, kerupuk, keju parmesan, tepung terigu, milk tea, roti tawar, dll, dll yang bisa kami konsumsi.

Selama ini referensi makanan halal kami sangat terbatas, jadi bahagia kalau nambah referensi makanan halal yang luar biasa jumlahnya..borooooong!!…

Sayur mayur, buah dan telur ayampun harganya jauh lebih murah di dibandingkan toko Lamu, tempat yang biasanya kami datangi karena kalau malam banyak diskon (lokasinya jauuuhhh beut, demi diskon aja pang dijabanin ngegowes malam-malam wkwkwk).

img_2447
Ayam halal..alhamdulillah, setelah 10 hari nggak makan ayam…

Jika kami lupa, bisa buka hape lalu buka akun facebook Halal Food Japan, disana ada folder foto-foto bahan makanan yang terupdate kehalal-annya.

Untuk temen-temen di tanah air, maaf ya saya nggak akan bawakan cemilan coklat yang terkenal itu (yang ada rasa green tea, dll) karena belum ada sertifikat halalnya, gomenasai.

Medical and Health Check Up

Selasa, 18 Oktober 2016

Pagi ini semua Intl Student akan melakukan serangkaian test kesehatan. Jadwalnya itu 2 hari, 18 atau 19 Oktober, silahkan pilih. Kami memutuskan untuk test hari ini.

Sebelumnya, saya ada cerita bahwa saya dan mbak V diantar mas Il ke klinik kampus untuk nanya-nanya soal test hari ini, oleh mereka kami dibagikan tabung palstik untuk mengisi urine kami, dan dibawa saat test hari ini.

Panduan pengambilan sample urinenya jelas, sample diambil ketika bangun tidur pertama kali dan perut kita masih belum diisi apa-apa.Kami di printkan prosedur yang berbahasa Inggris cara menggunakan tabung palstik tersebut, ternyata pemakaiannya mudah dan praktis. Saya jadi inget beberapa kali bikin SK kesehatan, ambil sample urine-nya..mmm…begitulah hahahah..

Oke, enough talking about air buangan manusia itu.

Saya tiba di Intl office jam 10 kurang. Kegiatannya dibuka jam 10 pagi. Di lobby Intl office sudah berjejer 2 meja, di atasnya terdapat beberapa alat elektronik, tertera tulisan tempat mendaftar, menyerahkan sample urine, dll. Pegawai kesehatan kampusnya menggunakan jubah dokter, tapi warnanya pink, laki-laki maupun perempuan.

Ketika kegiatan tersebut dibuka, kami mengantri di meja antrian, disana ada layar komputer, kami taruh kartu mahasiswa kami di suatu alat persegi di atas meja, otomatis data kamipun muncul di layar, kemudian printer mengeluarkan kertas berisikan biodata kita dan bar code. Apabila mahasiswa lupa membawa student card, maka mengetik biodata manual di layar.

Kemudian lanjut ke meja berikutnya, disana ada 2 pegawai, kami taruh kertas hasil print di mesin pembaca bar code, kemudian sample urine dikumpulkan. Kami lanjut ke rungan sebelahnya, ruangan untuk mengisi kuesioner yang buanyak..bisa melalui smartphone (disediakan wifi) atau dengan komputer yang disediakan diruangan tersebut. saya memilih duduk di depan komputer.

Pertanyaan kuesioner tentang kesehatan, di layar berbahasa Jepang huruf kanji, namun kami diberi buku panduan berbahasa Inggrisnya. Pertanyaannya sangat detail, mulai dari kondisi kita 3 bulan terakhir, sampai kapan kita imunisasi campak (kayanya waktu masih batita deh *lupa).

Pertanyaan lain yang unik, tentang kebiasaan kita sehari-hari dari mulai bangun hingga tidur. Apakah pernah jatuh saat jalan? Apakah jatuhnya ketika sedang memegang handphone? apakah anda sering tertawa? tertawanya karena apa? apakah anda tertawa lebih dari 3 kali sehari?

Mungkin pertanyaan-pertanyaan itu lucu ya, tapi hasil kuesioner itu jadi tahu kondisi badan kita baik fisik maupun mental.

img_2412
duduk nunggu antrain ketemu dokter dibilik samping kiri, didepan saya itu meja untuk mengukur berat dn tinnggi badan, tekanan darah dan ambil hasil test urine yang beberapa jam lalu dikumpulkan *cepet yaaa…

Setelah menjawab kuesioner yang berlembar-lembar itu, kami lanjut ke ruangan yang ada di foto. Kami diukur tinggi dan berat badan kami (otomatis langsung keluar BMInya, berat dan tinggi badanpun keakuratannya hingga 2 desimal belakang koma #wow).

Nah kemudian lanjut ke meja mengukur tekanan darah, ini nih yang saya takjub. Jadi nama alatnya adalah Sphygmomanometer, caranya tinggal masukkan lengan ke dalam lubang yang ada di mesin tersebut (tanpa menyingsingkan lengan baju loh..) kemudian diukur seperti alat manual langsung keluar hasilnya. Canggiiiihhh…

Lanjut kami ke meja untuk scan bar code lagi ke mesin, kemudian keluar hasil test urine hingga test tekanan darah yang terakhir, setelah itu diminta alamat email dan nama sensei saya (wuiiih jadi laporan ini dikirim ke sensei?? entahlah).

Hasilnya semua normal, termasuk berat badan yang TURUN 2 KG!!! (baru 10 hari di Matsuyama, dan sudah turun 2 kg!! alhamdulillah!! kurangin 1 kg lagi dan resolusi 3 tahun lalupun terwujud, hanya 10 hari di Jepang saudara-saudara!! #sujud syukur wkwkwkwk…)

Kemudian kami menunggu giliran untuk masuk ke bilik dokter. Ketika tiba giliran saya, pak dokter membaca hasil kesehatan saya. Kebetulan ketika mengisi kuesioner saya ada memilih “anemia”, kan HB saya rendah, gara-gara kurang tidur dan diet siy, ketahuannya kalau mau donor darah waktu di samarinda selalu nggak bisa. Nah pak dokter cek mata saya dll, kata beliau nggak perlu khawatir soal anemianya, normal aja. Saya juga bilang, karena kecapekan.

Tapi, ketika saya pindah ke ruangan berikutnya, dan terbaca tulisan Anemia di kertas hasil test kesehatan saya, perawat yang disitupun mengambil sample darah saya. sebenernya tidak semua peserta diambil sample darahnya, namun kebetulan semua anggota BUDI-LN yang perempuan ternyata anemia semua haiissh ibu ibuuu hahahaha…

Setelah ambil sample darah, kami disuruh keluar dan menuju taman dekat Ehime University Museum, pas diseberang taman yang dekat gedung Engineering Dept. Di sana sudah ada mobil besar bertuliskan : FPD Flat Panel Detector For Digital Chest alias mobil untuk melakukan X Ray dada. Disana sudah berjejer kursi antrian, tiap sesi masuk 2-3 peserta test dengan jenis kelamin yang sama.

Perlu diceritain? buka baju, pake baju rumah sakit, difoto dadanya, ganti baju, keluar. bros saya ilang.

Eh, beberapa saat kemudian petugas yang didalam mobil keluar sambil nanya, ini bros punya siapa?

wew, di Jepang orangnya apik dan bersih ya brosnya itu kuecil saudara-saudara. Saya sering kehilangan bros di tempat umum tapi gak pernah ada yang balikkin ke saya hiks…lah ini, ada yang balikkin.

Hal ini juga pernah terjadi ketika kelas survival course : language skill, sensei histeris ketika liat ada bungkus permen di lantai. Bungkus permennya kuecil transparan loh padahal..wow, kebiasaan bersih dan apik ya jadi gajah dipelupuk matapun, tampak.

Sepeda Jepang dan Asahi Bike Store

Senin, 17 Oktober 2016

Jadi hari ini saya nggak ke lab karena mengurus dokumen CoE Ajib di Immigration Office bersama pak N, mbak V ditemani Pak P teman satu Institusinya pak N dan mbak V.

Immigration Office itu jauh saudara-saudara, dengan naik sepeda, dan cuaca cerah 26 derajat (saya keringetan, duluuu aja 30 derajat adem ayem di samarinda). Lumayan lah, mana balik 2 kali karena ada berkas yang kurang.

Lumayan lah bisa singgah di toko seken terbesar “Hard off” dan toko elektronik terbesar “Edion” didekat kantor imigrasi, padahal ada Fuji Grand Dept. Store, kaya Mataharinya di Indonesia, tapi gak sempat.

Kelar semua urusan, pulangnya kami minta antar Pak N beli sepeda di toko yang dekat kampus, Asahi Store namanya. Selama kami tiba disini, kami meminjam sepeda dari bu N, ada beberapa sepeda bekas yang bisa digunakan.

Masalahnya, karena bekas, 2 sepeda yang dipakai mbak N gembos setelah beberapa kali pakai, rantainya berkarat sehingga perlu ekstra tenaga untuk mengayuhnya. Bayangkan kami ngos-ngosan bolak balik kantor imigrasi yang jauh itu wkwkwk.

Selain itu, kepemilikan sepeda disini ibarat kepemilikan sepeda motor di Indonesia, ada plat nomernya, surat jalan dan stnknya. Karena sangat pentingnya itulah, maka agak sulit juga dicuri, karena satu sepeda hanya dimiliki satu orang, sehingga menjual barang curian akan cepat ketahuan oleh pihak polisi.Selain itu, jika kita sembarangan parkir dan diangkut polisi, kita lapor aja sambil menyebutkan nomernya maka ketahuan ada sepedanya ada dikantor polisi yang mana. Hal itu juga yang membuat kami was-was memakai sepeda yang secara legal tercatat bukan milik kami.

Tapi terimakasih banyak bu N, sudah mau meminjamkan sepeda-sepedanya, sangat membantu kami di masa adaptasi ini. Arigatou gozaimasu N-san

Akhirnya akibat kelelahan mengayuh sepeda dan ketakutan uang saku kami menipis tanpa beli sepeda, kami putuskan membelinya sore itu. Sepeda ini akan dipakai selama 3 tahun, dan setelah selesai kuliah, kita bisa membawanya pulang ke Indonesia. Maskapai Garuda memberi gratis biaya angkut sepeda khusus mahasiswa Indonesia yang akan pulang setelah bersekolah di negara Jepang. sugoi!

Kami pun ke toko Asahi, tokonya bagus. Harga sepeda mulai JPY belasan ribu (model biasa, untuk anak-anak) hingga yang JPY 150.000 (kurskan 130 idr untuk 1 yen hahahah…), sepeda mahal ini yang sepeda listrik.

img_2389
Asahi Bike Store

Apa yang harus diperhatikan jika membeli sepeda disini?

  1. Mekanisme nyala lampu sepeda, ukuran jari-jari roda, warna sepeda, karena biasanya yang menentukan mahal tidaknya suatu sepeda adalah hal-hal tersebut(hitam lebih mahal)
  2. Bisa dan kuat untuk ditaruh attachment kursi balita dibelakang atau tidak
  3. Bisa dan kuat untuk ditaruh attachment kursi bayi didepan atau tidak
  4. Bisa dibawa ke Indonesia atau tidak

Akhirnya memutuskan membeli sepeda seragaman dengan pak N dan mbak V, bertiga kompak selalu haahahaha…harganya JPY 30.000, tambah JPY 500 untuk pengurusan nomer kepemilikan dan saya tambahin sepeda saya dengan keranjang dibelakang, nambah JPY 2.400 an.

img_2399
ini adalah alat transportasi saya selama 3 tahun kedepan, semoga membantu saya keep in shape #halah photo credit : Pak N using his Iphone 7 plus #uhuy

untuk tambahan, sepeda di sini jika malam hari wajib memiliki lampu, jadi harga sepeda sering kalinya terkait dengan mekanisme lampu nya. Sepeda ini juga dilengkapi gear, jadi bisa diatur dari gear 1 hingga 6.

Attachment alias asesories sepeda apa saja yang dibutuhkan?

  1. Keranjang belakang, biasanya butuh tambahan keranjang selain yang didepan
  2. Kursi untuk dudukan balita dibelakang, aturan sepeda di Jepang untuk anak usia 8 tahun kebawah harus dibonceng ibunya, Sedangkan umur 8 tahun ke atas wajib punya sepeda sendiri dan dilarang dibonceng dibelakang.
  3. Kursi depan untuk bayi
  4. Helm sepeda, biasanya anak-anak yang wajib memakai
  5. Kunci gembok sepeda, untuk harga sepeda yang mahal biasanya sudah ada gemboknya pas dibelakang bagian bawah jok sepeda, yang mengunci ban belakang
img_2402
Asesories yang dijual di Asahi, mulai kursi untuk balita, helm, sarung tangan, gembok, ban dalam, keranjang berbagai jenis, dll. Bengkelnya pun mereka ada di dalam toko #bukaniklan

Gimana rasanya menggunakan sepeda baru? huaaa, ringaaaaan…alhamdulillah

dan Ajibpun yang doyan sepedaan sudah mamah iming-imingi kalau di sunat bulan depan, pas di Jepang akan dibelikan sepeda boleh milih…duuh si mamah, ogah rugi, padahal kan sepeda buat anak umur 8 tahun itu wajib hahahah…maaf ya jib.